Selamat membaca...
jangan berhenti menulis dan berkarya!
JATUH NISTANYA TARI JOGED SEBAGAI TARI PERGAULAN DI BALI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa
ini, perubahan zaman membawa dampak yang sangat besar dalam berbagai hal.
Dengan adanya perubahan zaman pola pikir manusia pun ikut berubah. Selain pola
pikir manusia yang berubah sama halnya dengan keadaan seni dan budaya bangsa
kita yang juga mengalami suatu perubahan. Dari yang tidak ada menjadi ada atau
bahkan sebaliknya. Dimana seni dan budaya merupakan suatu akreditas atau ciri
khas dari suatu bangsa. Seperti contohnya di Bali terkenal akan seni dan
budayanya yang memberikan dampak besar bagi dunia pariwisata. Selain Bali
terkenal dengan obyek-obyek wisatanya, Bali juga terkenal dengan seni ukir,
seni patung, seni lukis, dan tidak kalah terkenalnya adalah seni tari. Dimana
tari adalah suatu ungkapan ekspresi jiwa manusia yang dituangkan melalui gerak
ritmis dan indah. Di Bali tari-tarian dibagi menjadi tiga fungsi yaitu sebagai
tari wali (tari yang dipentaskan di dalam pura dan tidak menggunakan lakon atau
kisah/judul), sebagai tari bebali (pengiring upacara yang dipentaskan di dalam
pura atau luar pura dengan menggunakan lakon), dan yang terakhir adalah
berfungsi sebagai balih-balihan (hiburan). Dimana contoh tari hiburan yang
sangat terkenal dan terpopuler di Bali adalah tari joged. Tetapi, di zaman era
globalisasi ini banyak seni dan budaya seperti tari joged disalahgunakan yaitu
digunakan untuk mencari suatu penghasilan tersendiri dan menyimpang dari arti,
fungsi dan makna dari seni budaya tari joged tersebut. Sehingga memberikan
dampak yang negatif dan merusak citra baik
dari fungsi dan makna tari joged, serta semakin banyak penyimpangan yang
terjadi sehingga membuat semakin terpuruknya seni dan budaya tarian joged tersebut sebagai
salah satu tari pergaulan di Bali.
Tari joged ini
adalah tarian yang sangat terkenal di Bali yang ditarikan secara berpasangan,
perempuan dan laki-laki dengan mengundang partisipasi dari penonton. Di zaman sekarang tarian joged menjadi beralih
fungsi dimana tarian joged pada zaman dulu merupakan suatu tarian pergaulan
atau tari rakyat yang biasanya dipentaskan untuk suasana suka cita, pada masa
sehabis panen, hari raya, sebagai tarian hiburan atau pergaulan, dan biasanya
juga dipentaskan pada hari-hari penting lainnya. Tetapi tidak semua tari joged berfungsi
sebagai hiburan ada juga yang bersifat sakral, walaupun bersifat hiburan namun
tarian jogged masih memegang teguh atau memiliki pakem-pakem tari Bali(aturan
dasar menari) yang jelas, seperti ketika penari membuka layer (langse),
memegang kipas, simbol-simbol dari gerakan kipas, mencari pengibing (pasangan
penarinya), termazuk gamelannya (iringan alat musik tradisional) semuanya dipentaskan dengan baik, sopan dan
mengikuti pakem-pakem yang baik dan tidak arogan. Namun pada zaman sekarang
tarian joged telah disalah gunakan dan fungsinya berbanding terbalik dengan
fungsi sebenarnya. Pada zaman sekarang tarian joged seperti tidak memiliki
identitas seperti suatu tarian pergaulan dan seperti kehilangan pakem-pakem yang seharusnya ada pada tarian
jogged tersebut, baik dari penarinya, pengibingnya dan bahkan pengiring
musiknya atau gamelannya. Sekarang tarian joged menjadi terpuruk sebagai tari
pergaulan. Hal itu terlihat dari akibat adanya joged porno dimana penyebarannya
melalui kaset VCD maupun DVD yang banyak
dijumpai atau di jual oleh pedagang-pedagang kaki lima. Selain itu tarian joged
juga ditarikan secara asal-asalan dan memberikan anggapan yang negatif seperti
penari joged yang melucuti (menarik) kain pengibingnya atau penari joged yang
lebih cenderung memperkenalkan tarian goyangan hirotisnya atau tarian goyang
pinggulnya sehingga pengibingnya pun juga tidak tanggung-tanggung untuk
membalas dari gerakan hirotis tersebut. Selain penari dan pengibingnya, bahkan
iringan musiknya atau gamelannya pun juga asal bunyi dan tidak menghiraukan
ketuk irama yang sesuai. Hal inilah yang
membuat tarian joged menjadi menyimpang dan membuat kalangan masyarakat
memiliki anggapan yang negatif. Oleh karena itu seharusnya tari jogged sebagai tarian
pergaulan dimana juga merupakan salah satu dari banyaknya tarian yang ada di
Indonesia dimana merupakan suatu warisan seni dan budaya yang menjadi akreditas
ciri khas suatu bangsa yang harus dilestarikan dan selalu memperhatikan dan mempertahankan
arti, fungsi, dan makna dari seni dan budaya tari joged tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas yang telah diuraikan sebelumnya, maka yang menjadi rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana
sejarah munculnya tari joged ?
2. Penyimpangan
apa yang terjadi pada tarian joged ?
1.3 Tujuan
Sejalan
dengan rumusan masalah yang dikemukakan, maka adapun tujuan dari penelitian ini
secara umum adalah sebagai berikut.
1. Untuk
mengetahui sejarah munculnya tari joged.
2. Untuk
mengetahui penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada tarian joged.
1.4 Manfaat Penulisan
Dari
hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada berbagai pihak
sebagai berikut.
1. Bagi
para penari joged dan sekaa tari joged
Dengan adannya hasil penelitian ini
dapat memberikan masukan bagi penari agar saat menari selalu memperhatikan dan
menerapkan pakem-pakem (tata cara atau aturan dasar dalam tarian) yang
seharusnya ada pada tarian joged tersebut, dan gerakannya pun tidak menyimpang
dari fungsi dan makna tari joged sebagai tari pergaulan yang dimana merupakan
warisan seni dan budaya bangsa yang harus dilestarikan. Selain gerakannya
penari pun harus memperhatikan penampilannya dan tata cara busana tari joged
agar tidak mengumbar hawa nafsu. Selain sang penari para sekaa pengiring joged
pun harus memperhatikan alat pengiring musik tradisional dan cara memainkannya
dengan ketuk irama yang baik dan tidak asal-asalan.
2. Bagi
para pelajar
Dengan adannya hasil penelitian ini
dapat memotivasi bagi para pelajar agar dapat melestarikan tari-tarian
nusantara khususnya tari Bali yaitu tari joged, dimana saat ini tari joged
sudah menyimpang dari fungsi dan maknanya sebagai tari pergaulan. Pelajar
sebagai generasi penerus bangsa wajib melestarikan dan meluruskan fungsi dan
makna dari seni dan budaya bangsa terutama pada tari joged.
3. Bagi
para kalangan masyarakat
Dengan adannya hasil penelitian ini
memberikan masukan kepada masyarakat agar ikut melestarikan dan meluruskan
fungsi dan makna dari tari joged tersebut sebagai warisan seni dan budaya
bangsa yang patut dijaga.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Berkembangnya Tari
Joged
Tari
joged berasal dari dua kata yaitu tari dan joged. Tari adalah suatu ungkapan
ekspresi jiwa manusia yang dituangkan melalui gerak ritmis dan indah. Sedangkan
joged artinya menari atau gerakan yang lincah. Dimana tari joged diakatakan
sebagai tarian rakyat atau merupakan tari pergaulan di Bali yang memiliki pola
gerak lincah, dinamis dan bebas. Dimana bebas dalam artian bahwa gerak-gerak
dalam tarian joged tidak terikat oleh pakem dan komposisi yang
ketat. Penari dapat melakukan banyak improvisasi, terutama saat meladeni partisipasi
penonton laki-laki yang turut menari
dengannya. Tari ini biasanya dipentaskan untuk suasana sukacita, pada musim
panen dan hari-hari besar.Tari joged mempunyai ciri khas baik dalam gerakan,
iringan musik “gamelan”, dan perkembangan busananya yang seiring dengan
berkembangnya zaman.
Menurut fungsinya tari joged ada yang bersifat
sakral yang digunakan untuk mengiringi ritual keagamaan, acara pernikahan,acara
potong gigi, dan ada juga yang bersifat
sebagai hiburan. Menurut perkembangannya , tari joged dapat dibedakan menjadi
beberapa jenis diantaranya :
1. Tari Joged Pingitan, dimana joged
ini muncul di Bali sekitar tahun 1884.
Semula merupakan tarian hiburan bagi raja, dan konon penari-penarinya adalah
para selir. Dinamakan Joged Pingitan karena di dalam pementasan tarian ini ada
hal-hal pingit (tabu), dimana pengibing (penari laki-laki)
hanya diperbolehkan menari mengimbangi gerakan penari joged. Dia sama sekali
tidak diperbolehkan menyentuh bagian tubuh mana pun dari sang penari joged.
Jika dilanggar, diyakini akan menyebabkan hal-hal yang mencelakkan penari atau
pengibing itu sendiri. Dalam pementasannya Joged Pingitan membawakan suatu
lakon dengan iringan gamelan tingklik bambu berlaras Pelog (lima
nada). Tabuh-tabuh yang biasa dimainkan meliputi: Bapang Gede,
Condong, Legong, Calon Arang dan Grandangan.
2.Tari Joged Adar, dimana tari joged ini merupakan tari pergaulan yang sudah di jaga
dan dikembangkan oleh masyarakat, selain itu tari ini juga diiringi dengan
munculnya Tari Joged Andir yang merupakan sejenis tari pergaulan yang
pementasannya dikaitkan dengan ritual keagamaan dan kepercayaan.
3. Tari joged Gandrung,
dimana tari ini ditarikan oleh laki-laki yang berhias dan
berpakaian perempuan. Joged Gandrung diiringi seperangkat Gamelan
Tingklik berlaras pelog yang terbuat dari bambu.
4. Tari Joged Gebyok, dimana tari joged ini merupakan jenis tari joged
yang diiringi dengan bumbung gebyog yang ritmis
berlaras slendro. Jenis joged ini hanya terdapat didaerah Bali bagian
barat yaitu di kabupaten Jembrana. Tari Joged Gebyog ini menggambarkan ibu-ibu
rumah tangga yang menumbuk padi dengan riang-gembira.
5. Tari Joged Dadua dimana tari joged ini muncul pada tahun 1920-an di
Puri Kediri dan sering disebut dengan Joged Duwe. Joged ini hanya terdapat di
Banjar Suda Kanginan (Tabanan). Tarian ini merupakan tarian ritual keagamaan di
pura-pura yang terdapat di wilayah Banjar Suda Kanginan.
6. Tari Joged Leko dimana tari ini muncul pada tahun 1930-an. Tari joged
ini terdapat di tiga desa yakni Desa Sibang Gede (Badung), Desa Tunjuk
(Tabanan) dan Desa Pedem (Jembrana). Hal yang paling menarik pada tari joged
ini adalah pada saat tari Joged Leko menampilkan kisah calonarang, dimana pada
saat dalam adegan perkelahian tiba-tiba penari Joged Leko mengamuk atau seperti
kesurupan.
7. Tari Joged Bisama dimana tari joged ini tidak begitu terkenal karena tidak
banyak informasi mengenai tarian ini yang hanya terdapat di Desa Bongan Gede
(Karangasem). Tari joged ini juga tergolong tarian hiburan yang mulai
disakralkan untuk mengiringi ritual upacara keagamaan.
8. Tari joged Bungbung dimana tari Joged Bungbung muncul di daerah Bali
utara sekitar tahun 1946. Seiring perkembangannya tarian ini menjadi sangat
populer pada tahun 1950an. Tari joged ini diiringi dengan gamelan tingklik bambu berlaras
Slendro yang disebut Grantang atau Gamelan Gegrantangan.
2.2 Penyimpangan yang Terjadi pada
Tari Joged
Tari joged adalah salah satu tari
yang membawa sebuah kipas, dimana tari ini adalah tari yang menggambarkan
sebuah kisah percintaan antara dua si joli, dimana tari ini adalah salah satu
gambaran bagi anak-anak remaja di dalam bercinta agar tidak mudah menyerah dan
bagaimana dia harus mampu mempertahankan harga diri dan kehormatannya sebagai
seorang wanita yang sedang diganggu oleh lawan jenisnya. Tari joged sebagai
tari yang memiliki dua fungsi yaitu sebagai hiburan dan sebagai tari sakral
yang dikaitkan dengan ritual agama. Dimana perbedaan fungsi tari joged sebagai
tari hiburan sangat berbeda dengan zaman dulu apabila dibandingkan dengan zaman
sekarang. Di zaman era globalisasi ini tari joged sangat terpuruk sebagai tari
pergaulan karena jatuh nistanya tarian ini akibat adannya tari joged porno,
baik yang dipentaskan secara langsung ataupun yang tersebar lewat VCD yang
banyak dijual oleh pedagang kaki lima. Tari joged dikatakan menyimpang karena
hal itu sangat nyata dan banyak dijumpai pada setiap pementasan hiburan tari
joged. Seperti halnya dimana ada penari
joged yang melakukan adegan-adegan yang menimbulkan kesan negatif dan porno,
seperti halnya sering ada penari joged yang berani melucuti (menarik) kain sang
pengibing (lawan penarinya), dan bahkan ada yang berani untuk memperkenalkan
goyang pinggulnya yang hirotis dan terkesan porno. Akhir-akhir ini tari joged
sudah ditarikan secara asal-asalan bahkan
iringan musik atau gamelannya pun juga asal bunyi. Dulu tari joged
sebagai tari pergaulan memiliki pakem yang jelas. Bagaimana dia menari membuka layar (langse),
bagaimana memegang kipas, bagaimana simbol-simbol dari gerakan kipas itu,
bagaimana mencari pengibing (teman menari yang biasanya pria).
Tetapi kenyataannya pada zaman sekarang tari joged sudah menyimpang dan
kehilangan fungsinya sebagai tari rakyat atau tari pergaulan. Dengan
penyimpangan tersebut mengakibatkan banyaknya muncul dampak yang negatif karena
penyimpangan terjadi dapat merusak moral dan karakter seseorang dan dengaan adannya
VCD joged porno yang beredar sehingga dapat ditonton oleh anak-anak, remaja dan
masyarakat luas sehingga menimbulkan pengaruh negatif di kalangan masyarakat
sehingga terjadi pelecehan seksual di bawah umur. Begitu pula perangkat musik sebagai
iringan gamelannya juga mengalami penyimpangan. Dulu perangkat musiknya memakai
angklung bambu (gerantangan), bisa memakai angklung logam (angklung kebyar),
memakai geguntangan, gong kebyar, bahkan hanya ''musik mulut'' yaitu genjek.
Namun pada zaman sekarang, gamelan “musik” yang dihasilkan bisa seperti
Gandrung Banyuwangi, atau gaya Jaipongan Sunda, bahkan tidak jelas lagi
iramanya seperti mirip improvisasi penyanyi dangdut dengan goyangannya yang
hirotis. Semua ini tanpa disadari telah menjatuhkan kesenian joged sebagai tari
pergaulan khas Bali yang dulu sangat dikagumi dan dipopulerkan oleh masyarakat.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan
rumusan masalah dan pembahasan yang telah dipaparkan, maka dapat ditarik
simpulan sebagai berikut.
1.Berdasarkan
sejarah munculnya tari joged, dimana tari ini merupakan salah satu tari rakyat
atau tari pergaulan yang sangat terkenal di Bali yang mengisahkan sebuah
percintaan dimana dia harus mampu mempertahankan harga diri dan kehormatannya
sebagai seorang wanita yang sedang diganggu oleh lawan jenisnya. Menurut
fungsinya tari joged dapat dibedakan menjadi tari joged yang bersifat sakral
seperti tari Joged Pingitan, Joged Dadua, dan Joged Andir, selain bersifat
sakral ada pula tari joged yang berfungsi sebagai hiburan seperti contohnya
yang paling terkenal sebagai hiburan adalah tari Joged Bungbung.
2.Di
zaman era globalisasi ini tari joged banyak mengalami penyimpangan baik dari
cara sang penari menari dan bahkan iringan musiknya “gamelan”. Selain itu tari
joged telah disalah gunakan yaitu menjadi sebuah tarian yang terkesan porno
sehingga dapat merusak moral dan menimbulkan kesan dan pengaruh yang negatif.
3.2 Saran
Dalam
kesempatan ini, penulis mengajukan beberapa saran berikut.
1.
Kepada
seluruh sekaa tari joged agar tetap melestarikan dan mengembangkan serta
meluruskan arti, fungsi dan makna dari tari joged sehingga tidak terjadi
penyimpangan yang akan membawa dampak yang negatif nantinya.
2.
Kepada kalangan masyarakat serta para pelajar
agar ikut melestarikan tari joged sebagai tari pergaulan yang merupakan warisan
seni dan budaya bangsa.
3.
Kepada para peneliti yang lain
disarankan untuk mengkaji penyimpangan tari joged dalam ruang lingkup lebih
luas.
DAFTAR
PUSTAKA
RGT launches a $1.2 billion mobile casino, sportsbook
BalasHapusRGT has launched a new online 상주 출장안마 casino, RGT, to integrate 김해 출장마사지 with the mobile 전라북도 출장샵 casino platform 여주 출장샵 and in-game 당진 출장안마 gambling options.